Tentang Kopi Pontianak, Djaja, dan Suka Hati

Tentang warung kopi, budaya ngopi, dan bangunan tua tempat menjual kopi di kota Pontianak. Warung kopi Djaja dan Suka Hati
Share it:


“Kopi Pontianak itu rasanya biasa aja, tapi budaya ngopinya yang bikin luar biasa”

Itulah kata seorang teman tentang seberapa pentingnya kopi bagi orang Pontianak. Kopi adalah budaya. Hampir setiap beberapa ratus meter akan selalu ada warung minuman yang menjual kopi saring – kopi ala kopitiam – di kota Pontianak. Ragam kreasi mulai dari kopi pancong alias kopi hitam setengah gelas, hingga kopi susu, siap untuk menjadi teman mengawali hari. 

Ada beberapa warung kopi yang cukup terkenal di Pontianak. Sebut saja warung kopi Asiang di jalan Merapi yang terkenal karena cita rasa kopinya yang enak, ditambah uniknya gaya busana sang pembuat kopi yang hanya bertelanjang dada. Ada lagi warung kopi Winny di jalan Gadjah Mada. Warung kopi ini tempatnya strategis di pusat kota dan buka hingga malam hari. Ada lagi warung kopi Ameng, Suka Hati, Djaja, dll.

Warung Kopi Djaja dan Suka Hati adalah favorit saya. Bukan karena kopinya - karena saya memang bukan pecinta kopi - tetapi karena atmosper yang saya rasakan ketika berkunjung ke tempat tersebut. Di Djaja dan Suka Hati, saya benar-benar merasakan sensasi minum di sebuah warung minuman tua, lengkap dengan olesan serikaya pada makanan pelegkapnya.

Warung kopi ini berdiri berdekatan, pada deretan ruko tua Pasar Tengah di jalan Tanjungpura. Dua warung kopi ini terpisahkan oleh toko kopi bubuk Obor, toko kopi yang juga terkenal. Sudah sejak kecil saya penasaran bagaimana rasanya minum di Djaja dan Suka Hati. Belasan tahun kemudian ketika pulang ke Pontianak, barulah saya bisa merasakan nikmatnya kopi susu dan es kopi di dua tempat ini.







Warung kopi Djaja kabarnya berumur sedikit lebih tua, dan akrab bagi generasi tua. Kasir di Djaja bercerita bahwa warung kopi ini sudah dipegang oleh generasi ketiga. Tidak ada yang tahu persis kapan warung kopi ini berdiri, tetapi sang kasir yakin bahwa warung kopi ini sudah berumur 80 tahun lebih. 

Meja pengunjung di Djaja kebanyakan berbetuk bundar, berdiameter sekitar satu meter dan permukaannya terbuat dari marmer putih. Lantainya dari tegel berwarna merah, tetapi kini sudah menghitam karena sepertinya sudah lama tidak disikat. Tembok-temboknya juga sudah kusam. Di beberapa sudut berputar kipas angin tua yang masih sanggup mendinginkan ruangan dari panasnya Kota Pontianak siang itu. Sungguh, warung kopi Djaja adalah setua-tuanya sebuah warung kopi.

Ketika saya berkunjung ke sana, hari sudah sore. Hanya ada saya dan adik saya di warung kopi itu. Setelah saya bertanya, barulah saya paham bahwa saya adalah pengunjung terakhir hari itu. Ternyata warung kopi Djaja adalah warung kopi "pagi hari". Warung kopi ini buka dari subuh hingga siang hari saja. Waktu paling ramai adalah subuh hari, dimana para generasi tua sudah bangun dan mencari sarapan untuk memulai pekerjaan mereka. Pelanggan warung kopi ini adalah para pekerja di Pasar Tengah, ataupun para pemilik toko yang harus menikmati secangkir kopi sebelum membuka gerainya.

Sementara itu, Suka Hati memiliki interior ruangan yang relatif lebih modern dibandingkan Djaja. Dindingnya sudah dicat ulang, lantainya sudah lebih baru, dan pengunjungnya dari kalangan umur yang beragam. Warung kopi ini tampak selalu ramai. Sepertinya karena memang lebih nyaman dibandingkan Djaja yang belum diperbaharui interior bangunannya.






Meskipun tampak lebih baru, Suka Hati tetap memberikan sensasi klasiknya. Beberapa meja bundarnya masih berlapis marmer putih seperti di Djaja. Lukisan aksara Tionghoa tua juga masih menempel di dinding, bersama dengan burung garuda dari ukiran kayu yang tergantung di atas pintu lorong. Di bawah burung garuda, di ujung lorong, terdapat sebuah altar kecil tempat sembayang agama Kong Hu Cu.

Hal yang terkenal dari dua tempat minum kopi ini adalah selai serikayanya. Selai serikaya terbuat dari campuran telur bebek, gula, dan kelapa. Bukan dari buah serikaya seperti yang banyak orang kira. Di Djaja dan Suka Hati, mereka membuat sendiri selai serikayanya. Selai ini biasa dioleskan di roti manis, pisang goreng, atau keladi goreng. Manisnya selai ini seolah menjadi penyeimbang pahitnya kopi. Jika ingin, maka selai ini pun bisa kita bawa pulang ke rumah. Mereka menjual selai yang sudah dimasukkan dalam wadah kecil, siap untuk dibawa pulang sebagai buah tangan.

Djaja dan Suka Hati bagi saya adalah warisan penting bagi kota Pontianak. Bersama dengan deretan bangunan tua lainnya, warung kopi di Pasar Tengah ini adalah lambang keragaman etnis dan toleransi yang telah terbentuk sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu di kota ini. Warung kopi dimana etnis Tionghoa, Melayu, Dayak, Madura, Bugis, Arab, dan Jawa bisa duduk bersama, saling bercengkrama. Dimana kaya dan miskin bisa duduk bersama sambil menikmati menu yang sama: secangkir kopi dan sepotong pisang serikaya.

Saya kira itulah yang membuat warung kopi di kota Pontianak hari ini masih selalu ramai. Bukan sekadar karena rasa kopinya yang enak, tetapi karena rasa guyub rukun di warung kopi. Bukan sekadar karena manisnya serikaya, tetapi juga karena manisnya persahabatan antar etnis di kota ini. Semoga warung kopi di kota ini selalu ramai, sebagai pertanda warganya rukun dan damai. 




Share it:

albertna stories

indonesia

kota

Post A Comment:

5 comments:

  1. kopi+pisang/roti serikaya pontianak itu juwaraaaaa .... km sukses bikin sayah ngileeeer kisanaaaak :)

    ReplyDelete
  2. Saya bukan pecandu kopi, tapi beneran ada atmosfer khusus ya di tempat ngopi. Aaah, jadi pengen ngopi, Kak.

    ReplyDelete
  3. Baca cerita ini jadi ingat Ethiopia. Di sana ngopi itu kultur. Tapi kopinya enak sih hahahaa.
    Aku jadi penasaran untuk minum kopi di Pontianak. Terima kasih Ghana atas ceritanya.

    ReplyDelete
  4. saya juga bukan pecinta kopi. jadi saya tidak terlalu memusingkan rasa jika minum kopi. tapi suasana kedainya yag membuat ngopi lebih dari sekedar ritual minum kopi

    ReplyDelete