Paspor Kurang Dari 6 Bulan Lolos Masuk Singapura

Pengalaman abainya saya dalam mempersiapkan dokumen keimigrasian.
Share it:

Ketika ada tawaran pekerjaan untuk pergi ke Singapura, saya paham paspor saya memang akan kedaluwarsa tahun ini. Namun, saya yakin setelah mengecek tanggal kedaluwarsa paspor, bahwa paspor itu masa berlakunya masih lebih dari enam bulan - sebagai syarat membeli tiket pesawat dan aturan tertulis imigrasi Singapura. Jadi, saya terima pekerjaan dengan senang hati karena sudah lama juga tidak ke Singapura.

Sayangnya, kebodohan matematika saya memang sudah kronis. Pasal menghitung tanggal saja pun saya bisa salah. Paspor saya akan kedaluarsa tanggal 30 Juli 2018. Awalnya, saya mengira jatuh tempo H-6 bulan paspor akan tiba tanggal 28 Februari 2018. Namun, ternyata per tanggal 30 Januari, paspor tersebut bisa dianggap kedaluwarsa, alias kurang dari enam bulan lagi masa berlakunya. Padahal, saya berangkat tanggal 3 Februari, yang artinya umur paspor saya hanya tinggal 5 bulan 26 hari.

Saya baru sadar ketika hendak membeli tiket pesawat. Tidak ada satupun online travel agent yang memungkinkan membeli tiket pesawat ketika paspor umurnya kurang dari enam bulan. Mengapa bisa begitu?  Karena ketika dalam skenario terburuk saya dideportasi dari Singapura, maka maskapailah yang harus menanggung tiket pulang sekaligus membayar denda ke pemerintah Singapura.

Saya panik bukan main. Kontrak kerja sudah ditandatangani, kewajiban posting sudah di depan mata. Saya coba mengecek kantor imigrasi untuk perpanjang paspor, namun antrian paspor sudah penuh dan kalau adapun belum tentu akan selesai sebelum tanggal saya berangkat. Hingga akhirnya setelah mencari informasi sana-sini, ada satu website maskapai yang bisa membeli tiket online tanpa harus input nomer paspor. Tiket saya sudah aman. Kini, tinggal soal imigrasi.

Sebenarnya, masa kurang dari enam bulan berlakunya paspor ini belumlah berarti paspor kedaluwarsa. Masa ini adalah masa tenggang, supaya pemilik paspor segera memperpanjang, dan juga masa "aman" agar kita dianggap memiliki legitimasi sebagai pemegang paspor ketika di luar negeri. Karena, mungkin saja terjadi skenario ketika kita masih berada di luar negeri dan masa berlaku paspor kita habis, tentu saja otomatis kita menjadi seseorang tanpa kewarganegaraan. 

Setelah mencari informasi sana sini, ternyata ada kemungkinan saya akan diloloskan untuk bisa pergi ke luar negeri meskipun masa berlaku paspor kurang dari enam bulan, asal tiket balik sudah tersedia, perginya tidak lama, untuk tujuan liburan atau mengurus orang sakit. Untungya, saya masuk dalam kategori itu: punya tiket pulang, pergi hanya tiga hari, dan untuk liburan (meskipun kerja). 

Ini sungguh gambling memang, dan saya sudah pasrah. Ada tiga tahapan yang harus saya lewati sampai saya benar-benar aman: counter check-in, imigrasi Indonesia, dan imigrasi Singapura. Karena tiket saya dari Semarang ke Singapura jadi satu kode boking, di Semarang saya di-check-in-kan oleh petugas maskapai dan langsung mendapat boarding pass ke Singapura. Meskipun sepertinya entah terjadi sesuatu dengan komputer mereka, tapi toh saya aman karena akhirnya boarding pass bisa keluar dan sudah di tangan. Awalnya saya sempat takut dengan counter check-in maskapai yang akan melarang saya berangkat, karena biasanya maskapailah pihak pertama yang akan melarang saya terbang karena tidak ingin rugi jika saya dideportasi.

Transit di Jakarta, dari Terminal 1 saya harus menuju Terminal 2 untuk terlebih dahulu melewati imigrasi Indonesia. Melihat papan nama Imigrasi saja rasanya saya sudah deg-degan setengah mati. Namun, saya berusaha tetap tenang. Sampai konter imigrasi, ada antrean panjang jamaah umroh dan mau tidak mau saya juga harus sabar mengantri karena hanya ada satu konter imigrasi yang buka. Tidak lama, konter imigrasi lain dibuka, dan saya dipersilahkan untuk pindah antrean. Semakin dekat nih pikir saya dalam hati.

"Selamat siang mas", Sapa saya pada petugas imigrasi.

"Berapa hari di Singapura?", Ia bertanya.

"Tiga hari mas", Jawab saya.

"Tiket pulang sudah ada? Mau liburan ya?", Lanjut petugas.

"Sudah mas. Iya liburan", Jawab saya singkat. 

"Ini paspornya nanti diganti ya, udah kurang dari enam bulan", Pesannya.

"Iyaa mas, kemarin mau perpanjang antreannya penuh" Saya beralasan.

"wah, sampai begitu yaa, yaudah nanti pulang diperpanjang ya"

Kemudian terdengar bunyi stempel "Departure" mendarat di lembar paspor saya. 

Sungguh lega bukan kepalang. Tiada yang lebih indah dari bunyi stempel imigrasi di paspor saya hari itu. Kini, tinggal satu lagi gerbang yang harus saya lewati: Imigrasi Singapura, yang terkenal ketatnya. 

Selama penerbangan saya tidak bisa berpikir jernih. Mengisi kartu Embark/Disembark imigrasi Singpura yang dibagikan pramugari kali ini sepertinya berat sekali. Terlebih, sampai di Singapura saya tidak langsung keluar imigrasi, namun harus meliput daerah "air side" bandara Changi yang menjadi pekerjaan utama saya.

Ketika pekerjaan selesai dan saya hendak keluar bandara, konter imigrasi Singapura sepi bukan main. Bahkan hanya konter imigrasi bagi warga negara Singapura yang dibuka, dan saya disuruh untuk mengantri saja di konter itu. Sampai pada giliran saya masuk konter, paspor saya langsung di-scan, kemudian petugas menyuruh saya menempelkan jempol di pemindai sidik jari, dan ajaibnya sang petugas langsung memberikan stempel di lembar paspor dan kartu Embark/Disembark saya. Tanpa bertanya sepatah katapun.

Namun, ketika wajah petugas berpaling dari lembar paspor yang telah dicapnya dan melihat layar komputer yang timbul peringatan merah, ia segera membalik paspor saya ke halaman biodata. Dilihatnya sebentar halaman itu, kemudian langsung ia berikan paspor saya sebagai pertanda saya bebas melenggang di Singapura. Ingin sekali saya berteriak bahagia saat itu, namun tentu saya harus jaga sikap agar tidak dianggap mencurigakan. Kalau saja petugas itu belum membubuhkan cap duluan, mungkin saja saya sudah ditahan di ruang interogasi atau mungkin sudah dideportasi. 

Terpujilah semesta yang begitu baik, dan semoga semua petugas imigrasi diberikan berkat melimpah dalam hidupnya. Akhirnya masa bakti paspor saya bisa dipurnakan dengan bertugas di Singapura, seperti bagaimana ia mengawali tugasnya dengan stempel Singapura empat tahun lalu. 

Btw, jangan ditiru ya tabiat saya ini. Pastikan semua dokumen perjalanan masih berlaku ketika hendak bepergian. Kasus seperti saya ini hanya gambling, bisa saja terjadi skenario sebaliknya di kesempatan lainnya. Kebetulan saja saya sedang beruntung. 

Terimakasih maskapai singa ;P

Share it:

albertna stories

mancanegara

Post A Comment:

1 comments:

  1. Saya pernah juga, waktu itu ke thailand kemudian lanjut ke ho chi minh dan kamboja, paspor tinggal 6 bulan, di imigrasi medan di tanya2 ama petugasnya, di thailand, vietnam dan kamboja malah gk ditanya sama sekali.

    Sangkin takutnya, pagi hari sebelum brgkt jg masi ngurus paspor dan diupayakan gimanapun menjelang keberangkatan paspor tetap ngk bisa siap, akhirnya paspor lama di kembalikan buat dipakai dulu, pas kembali ke indonesia baru ambil paspor barunya... Pengalaman tak terlupakan

    ReplyDelete