London Stories: Nasionalisme dari Grosvenor Square 38

Share it:

image

Pagi itu saya bergegas bangun pagi, Mandi dan berdandan. Tidak ada hari bermalas-malasan. Batik terbaik seumur hidup yang telah saya persiapkan dari Indonesia saya keluarkan dari koper dan langsung dikenakan di badan saya. Kemilau emas batik kemudian saya padukan dengan setelan celana bahan hitam, sepatu pantoefel dan tata rambut klimis basah efek gel rambut. Hari itu adalah salah satu hari spesial bagi kami. Kami akan berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Britania Raya dan Irlandia.


Waktu pertemuan kami dengan KBRI dijadwalkan pukul 10 pagi. Sudah diwanti-wanti agar tidak terlambat, pukul 8 kami sudah naik Underground menuju daerah Grosvenor Square, di pusat kota London. Sekitar sepuluh menit berjalan mengelilingi Grosvenor Square yang ternyata adalah taman, kami melihat sebuah gedung dengan bendera Asean dan Merah Putih berkibar di balkonnya. Kami telah tiba di KBRI London. KBRI London terletak di daerah yang sangat strategis. Daerah ini merupakan pusat dari kedutaan negara-negara di Inggris. Di sebelah kedutaan Indonesia berdiri megah kedutaan besar Amerika Serikat. Tidak jauh dari situ juga berdiri kedutaan Italia, Singapura, dan banyak negara lainnya. Indonesia sebagai negara besar berhasil menyejajarkan diri dengan bangsa besar lainnya, setidaknya dalam mencari lokasi kedutaan besarnya.

Bentuk bangunan Eropa yang seperti rumah tinggal elit itu berpintu kayu berwarna hitam dengan kaca patri emas. Di atasnya terdapat kaca patri yang di tengahnya terdapat emblem Garuda Pancasila keemasan. Saya menekan bel bermicrophone yang biasa ditemukan di hampir setiap kantor di London. Dari speaker yang tertanam di bel, kami tahu bahwa pintu tidak terkunci sehingga langsung saja kami mendorong pintu kayu hitam itu dan masuk ke dalamnya. Kami disambut seorang wanita paruh baya berwajah Indonesia yang menjaga receptionist. Setelah kami menerangkan maksud kedatangan, ia mengarahkan kami ke ruang tunggu tamu. Ruangan hangat dan senyum ramah Indonesia yang menyambut saya berhasil membuat saya merasa seperti berada di rumah sendiri.
image
Merah Putih di London
Kedutaan Indonesia di London ini jauh dari kesan seperti kedutaan negara barat yang berada di Indonesia. Jika di negeri kita kedutaan negara asing serba tertutup, dengan pengamanan ketat dan kaku, maka di KBRI London pintu dibuka selebar-lebarnya kepada siapa pun yang ingin berkunjung. Dari sekadar warga negara Indonesia yang ingin berkonsultasi soal urusan kewarganegaraan, nenek-nenek tua yang ingin bertanya soal Indonesia, hingga kaum-kaum seperti kami: mahasiswa yang rindu makan nasi dan hanya merepotkan petugas KBRI dengan urusan pinjam printer dan cek bagasi yang hilang. Semua mereka layani dengan senyum khas Indonesia, kerja yang cepat, dan profesional. Terbukti, bagasi teman saya yang sesat sejak kami tiba di Heatrow bisa tiba dalam waktu singkat setelah diurus dengan surat sakti yang diberikan oleh KBRI. Padahal kami telah mengurus sendiri bagasi itu lebih dari seminggu sebelumnya, dan tidak pernah ada kabar berarti. Diplomat-diplomat Indonesia ini sungguh mampu membuktikan kualitas kerja tingkat dunia.

Tidak lama menunggu di ruang tunggu, kami bertemu dengan mbak Dethi Silvidah Gani, Sekretaris Tiga KBRI London. Dia mengantarkan kami menuju ruang aula KBRI untuk bertemu dengan bapak Duta Besar Dr. Rizal Sukma. Pak Rizal kala itu baru saja ditunjuk oleh Presiden Jokowi untuk menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Britania Raya dan Irlandia menggantikan bapak Teuku Mohammad Hamzah Thayeb. Setelah acara dengar pendapat dengan beliau soal kegiatan kami di London, beliau juga memberikan petuah-petuah tentang persaingan global, rasa percaya diri, dan semangat kompetisi yang sangat penting di zaman ini. Mirip-mirip seperti apa yang pak Jokowi biasa sampaikan soal pentingnya persaingan global di pidato-pidato kenegaraannya. Acara seremonial berakhir dan ditutup foto bersama bapak duta besar. Bangga rasanya berhasil berfoto bersama RI 1 untuk Britania Raya.
image
Berfoto bersama Dubes RI untuk Britania Raya
Hal yang paling ditunggu-tunggu tiba. Makan siang bersama. Telah tersaji makan siang prasmanan dengan menu khas Indonesia. Rendang, semur ayam, sayur sop, sambal, kerupuk, dan yang paling dinanti, nasi. Sudah hampir dua minggu di London, rasa rindu mengecap nasi hari itu pun terbalaskan. Tidak malu-malu, saya mengambil porsi cukup banyak. Minuman juga disediakan banyak varian. Mulai dari air putih, jus kotak Ribena, hingga kopi dan susu siap untuk dipilih. Jamuan ala KBRI London semakin membuat saya bersyukur bisa berkunjung ke sana kala berada di tanah yang jauh dari ibu pertiwi.

Jamuan siang itu ternyata juga digabungkan dengan hidangan makan siang bagi staf kedutaan. Saya kemudian bertemu dengan seorang berwajah barat dengan setelan jas yang juga ikut makan bersama dengan kami. Sedikit mengejutkan karena hampir semua staf KBRI yang saya temui adalah orang Indonesia asli. Beliau menyapa saya ramah dalam Bahasa Indonesia. Pikir saya beliau pastilah orang Inggris yang bekerja di KBRI yang sudah mahir berbahasa Indonesia. Percakapan berlanjut dari sekadar bertanya tentang kegiatan saya di London, hingga isu-isu tanah air. Kami berdiskusi tentang Gafatar yang sedang hangat-hangatnya kala itu. Kami juga berdiskusi tentang Pancasila yang digugat oleh sebagian kalangan sebagai dasar negara republik ini. Sampailah pada cerita bahwa beliau berasal dari Timor Leste dan cerita saya yang ingin berkunjung ke Timor Leste untuk merasakan natal di sana. Rencana saya itu ditentang oleh beliau, dan beliau menyarankan saya lebih baik berkunjung ke Manado atau Maluku. Dalam hati saya, pastilah bapak ini berasal dari kalangan pendukung integrasi Timor Leste.
image
Bahagia merasakan nasi jauh dari rumah
Akhir pembicaraan kami ditutup dengan diberikannya kartu nama beliau kepada saya. Terkaget-kaget saya membaca kartu namanya. Beliau adalah Colonel Rui Duarte, Atase Pertahanan Republik Indonesia untuk Britania Raya. Beliau adalah seorang pemuda keturunan Portugis Timor Timur yang pada tahun 1993 lulus dari Akademi Militer dan sekarang menjadi anggota TNI Angkatan Darat. Seseorang yang mungkin di kampung halamannya menjadi momok akibat cerita-cerita perang antara angkatan bersenjata RI dengan pejuang kemerdekaan Timor Leste di era 90an dulu. Nasionalisme Colonel Duarte pada Indonesia tidak tergoda pada utopia kemerdekaan di tanah kelahirannya. Baginya mungkin saja pilihan untuk membela Indonesia adalah kemerdekaan itu sendiri. Sayang sekali saya tidak sempat mengambil gambar bersama beliau.

Usai makan siang, rombongan kami kemudian merepotkan staf KBRI dengan cerita meminjam printer untuk mencetak dokumen kegiatan kami di London. Untung saja petugas KBRI tersebut mau mengabulkan permintaan kami yang teledor tidak mencetak dokumen sejak di Indonesia. Kami kemudian menunggu di receptionist di saat seorang nenek datang dan bertanya-tanya soal visa untuk berkunjung ke Indonesia. Nenek tersebut bermaksud menjenguk temanya yang sedang sakit di Bali. Beliau ingin berkunjung selama kurang lebih 40 hari sedangkan gratis visa masuk Indonesia bagi warga Inggris hanya 30 hari.
image
Salah satu kata bijak di sudut dinding KBRI London
Nenek itu kemudian bertanya bagaimana alternatifnya untuk bisa berkunjung ke Indonesia selama 40 hari. Petugas konsuler KBRI kemudian menjelaskan dua alternatif bagi nenek itu. Pertama, sang nenek tidak perlu apply visa dengan catatan ketika sudah hampir habis free visanya nenek tadi keluar Indonesia, seperti ke Singapura atau Malaysia dan kembali lagi masuk Indonesia untuk mendapat free entry 30 hari berikutnya. Alternatif kedua, nenek tadi apply visa kunjungan yang belaku selama 60 hari dengan biaya 40 Poundsterling. Nenek tadi ngotot tidak mau mengambil visa 60 hari itu karena dia hanya ingin berkunjung 40 hari dan berkata bahwa tarif 40 Pound itu mahal baginya yang hanya seorang janda pensiunan.

Lama berdiskusi dengan alot, nenek tersebut masih ngotot bahwa harga 40 pound yang ditetapkan oleh kementrian luar negeri untuk pembuatan visa itu sangat mahal. Akhirnya staf konsuler memanggil kami dan berkata kepada nenek itu

“Mereka dari Indonesia, dan perlu apply visa ke UK” Cerita sang konselor pada nenek itu.
Kami mengangguk, dan semangat membela sang konselor yang sudah sedikit kesal akibat ngototnya nenek tadi soal biaya pembuatan visa yang mahal. 

“Coba kalian bilang berapa kalian bikin visa UK” Tanya konselor pada kami.

“130 Pound” jawab kami serempak.

Nenek tadi nyengir meremehkan dan menjawab
“This is UK, center of the world! Ini London! Kamu dapat apa pun di sini. Teather, perpustakaan, taman. Ini Britania Raya dan harga segitu seusai” 

Tiba-tiba hati saya panas dengan kalimat bernada superioritas dari nenek tadi. Enak sekali pikir saya bahwa pusat dunia hanya diukur dengan taman, perpustakaan, teahter dan segala konsepsi barat akan peradaban. Saya adalah seorang pengagum adab barat, tetapi bukan berarti adab timur lebih rendah martabatnya. Sontak saya menjawab nenek tadi

“But we have beaches, we have beautiful temples and arts, and most importantly we have sun that shines every day that make us always smile.”  

Nenek tadi terdiam. Setelah ditegaskan oleh konselor dia hanya memiliki dua pilihan untuk masuk Indonesia, ia menggerutu pergi dari kedutaan. Ia mungkin sudah lupa akan temannya yang sakit di Bali akibat perasaan superioritasnya pada sebuah negara berkembang nun jauh di tenggara bekas jajahannya dulu. Ia mungkin kesal dengan orang-orang Indonesia yang tidak mau kalah bersilat lidah seperti kami dan konselor yang begitu tegas mempertahankan martabat negeri ini di depan seorang nenek pensiunan sekalipun. Tetapi yang terpenting kami puas telah mempertahankan martabat negeri ini bahkan ketika kami jauh sekali dari Indonesia. Kami puas membela hasil pemikiran pembuat kebijakan luar negeri Indonesia dari serangan pesan superioritas proses visa UK yang njelimet berharga ratusan Poundsterling yang menurut nenek tadi sesuai dengan apa yang akan didapatkan di Inggris. Saya bangga dengan konselor-konselor Indonesia yang begitu terlatih menempatkan diri melayani masyarakat secara langsung. Keramahan ala Indonesia masih tetap terpancar meski menghadapi masyarakat yang menjengkelkan. 

Di KBRI London akhirnya saya belajar bahwa kita bukanlah bangsa yang bisa diatur oleh orang lain. Kita adalah bangsa yang merdeka semerdekanya mulai dari pikiran hingga perbuatan. Kita berdiri sejajar dengan negara dan bangsa lain karena memang kita pantas, bukan karena sekadar meminta-minta untuk disejajarkan. Cerita tentang mencintai negeri ini dari sekadar makan nasi di luar negeri, menjadi pembela negara lain saat tanah airnya menuntut kemerdekaan, hingga cerita tentang semangat nasionalisme dan disiplinnya hidup sebagai Indonesia di luar negeri, adalah cerita lain yang semoga saja membuat pikiran kita semakin terbuka dan merdeka dari hanya sekadar mendengar berita tentang Awkarin dan Kopi Mirna. 

Dirgahayu Indonesiaku ke 71, MERDEKA!
image
Kapan lagi berfoto bersama RI 1, meskipun cuman punya duta besar hehehe
Share it:

kota

mancanegara

Post A Comment:

0 comments: