Perjalanan Ke Museum Bahari (2)

Share it:

image

Luruskan pandang ke daratan tandus, ke petak-petak garam
Kelaut lepas, layar putih-putih, perahu-perahu bebas
O laut Jawa di belakang desa-desa sengsara
Laut Jawa di belakang kejatuhan dan kebangkitan suatu bangsa
Laut adalah kita, perahu-perahu berkuasa
Dari Arafura, Selat Sunda, Selat Malaka
Demikian sejarah bangsa dalam masa jaya
Sebelum Sultan Agung dan monopoli kapal dagang bersenjata
Laut adalah kita, sebelum cengkeh dan pala
Laut adalah kita, sesudah minyak dan baja
Perahu-perahu begitu manis, kapal-kapal lebih perkasa
Luruskan pandang ke laut, laut yang merdeka


Pantai Utara – Ajib Rosidi
Pada sebuah prasasti di dinding Museum Bahari


Derit kayu tua yang menjadi anak tangga menara syahbandar menemani langkah kaki menapaki bagian pertama dari Museum Bahari Jakarta. Ketika itu menara ini sedang direnovasi. Bau cat merah pelapis gedung masih terasa menyengat hidung. Tampak dua tukang wira-wiri di dalam menara kontrol pelabuhan di masa lalu itu. Ketika saya bertanya kepada petugas apakah boleh masuk menara ketika sedang direnovasi, mereka dengan yakin menjawab boleh bahkan seperti menyarankan agar saya naik hingga puncak. Sepertinya renovasi menara itu hanya sekadar pengecatan, bukanlah perombakan yang membuat struktur bangunan menjadi tidak aman bagi manusia berbeban lebih seperti saya. 

Derit tangga berakhir di ruang berdebu dan apek di puncak menara. Aroma kayu tua dan debu entah dari beratus tahun lalu seolah tidak mempan ditiup oleh angin semilir dari empat jendela lebar yang terbuka. Menara syahbandar ini tentulah menjadi menara vital pada masa jaya Sunda Kelapa. Menara ini menjadi tempat bandar pelabuhan memutuskan apakah kapal boleh melepas sauhnya atau tidak. Menjadi pusat kontrol hilir mudik niaga di Batavia. Menara ini juga menjadi pusat kuasa cukai para priyayi yang bergantung pada sekor maritim dan niaga. Menara ini adalah pengontrol salah satu bandar terbesar di Asia pada zamannya. 

Tampak dari kejauhan kapal neyalan mondar-mandir di teluk Jakarta dan pemandangan pasar kumuh tepat di bawah menara. Di kanan menara terdapat aliran kali yang berujung pada pintu air, dan di kanan menara terlihat pemukiman elit berdiri gagah, terus menuju barat. Di selatan menara, tampak megahnya Jakarta yang penuh gedung tinggi berselimut pekatnya polusi. Tempat ini seolah menjadi teropong Jakarta dari utara, menjadi saksi perkembangan ibu kota. Fungsi menara ini sedikit banyak masih sama, menjadi pengawas gerak-gerik manusia di sekitarnya.
image
Deretan perahu dari penjuru negeri
image
Potret Laksamana Malahayati
Perlajanan jelajah museum bahari berlanjut ke gedung utama. Sekitar 50 meter dari menara syahbandar, saya melihat deretan gedung beratap tinggi-tinggi dan berdinding tebal khas gudang pelabuhan kolonial. Ternyata gedung utama museum ini memanglah sebuah gudang penyimpanan rempah-rempah yang dibangun pada tahun 1773. Pantaslah jika gedung ini adalah bekas gudang, pasalnya gedung ini begitu luas dengan ruang sedikit sekat dan jendela-jendela kecil berteralis untuk menjaga kemanan rempah dari tangan-tangan jahil. Sejak tahun 70an pemerintah DKI mengubah tempat ini menjadi sebuah museum. Isi museum bahari adalah replika dan miniatur kapal, perahu dan peralatan melaut dari seluruh Indonesia. 

Museum ini juga menjelaskan asal muasal penjelajahan samudera di dunia, dan penjelajahnya di Indonesia. Dimulai dengan Ibnu Batutah, hingga Laksamana Malahayati. Di museum ini saya sungguh tercengang mengetahui ada seorang wanita Aceh yang telah menjadi laksamana ulung penakluk lautan. Laksamana Malahayati adalah seorang keturunan Kesultanan Aceh. Ia mempimpin 2000 Inong Balee (janda-janda pahlawan), berperang melawan kapal dan benteng Belanda serta membunuh Cornelis De Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Laksamana Malahayati di zaman itu telah membuktikan diri sebagai pejuang tangguh di atas lautan nusantara.
Puas tenggelam dalam kisah penakluk lautan, saya pergi ke sudut-sudut lain museum. Sepi dan mencekam khas museum yang pernah saya kunjungi, juga menghampiri saya disini. Saya turun ke lantai bawah tempat replika perahu nusantara dipajang. Perahu dan kapal yang disimpan diantaranya perahu Pinisi, perahu bercadik hingga sampan berukir motif Dayak. Di dinding-dinding museum terpatri info grafis tentang pelabuhan di Indonesia, yang terasa lebih mirip pesan sponsor yang jauh dari kata informatif. Alat navigasi kuno tuga tersimpan di museum ini. Mulai dari peta kuno Batavia, hingga kompas kapal-kapal yang lebih modern tersimpan dengan berselimut debu tipis, mungkin jarang dijenguk oleh petugas museum.
image
Miniatur perahu Pinisi
image
Dipotret dari halaman tengah museum
Saya mencoba menjelajahi ruang terbuka museum. Halaman tengah museum ini cukup lapang, dan terasa seperti halaman sebuah benteng karena dikelilingi tembok-tembok tinggi dan jendela-jendela yang berumlah cukup jamak. Baik jika tempat ini dimasa datang bisa lebih ditata dan diekspos karena saya yakin akan menarik kaum muda datang ke museum ini. Kesan vintage bangunan yang berhias kusen pintu lengkung dan meriam tua cocok sebagai latar foto estetis penghias media sosial. Bisa saja dikemudian hari halaman tengah museum dibuatkan diorama bahari ataupun miniatur kapal yang bisa dinaiki. Ide tadi hanyalah sekadar untuk menarik pengunjung ketempat yang kunjungannya tergolong sepi ini.

Puas berkeliling museum dan merasakan kesialan kehilangan beberapa foto akibat rusaknya memori handphone, saya bergegas kembali ke kota tua Jakarta dengan bajaj yang sedari tadi ngetem di depan menara syahbandar. Waktu saya masih cukup untuk mengunjungi satu museum lagi sebelum menuju hotel untuk check in dan beristirahat. Matahari Jakarta membuat kulit kaki saya belang karena hanya terlindung sandal gunung. Pipi saya sampai memerah akibat sengatan surya di tepi teluk Jakarta. Semoga saja merah di pipi ini semerah semangat para nelayan negeri ini untuk terus melaut. Merah seperti semangat nenek moyang kita yang adalah pelaut, yang mampu menaklukan samudera yang takkan pernah berhenti bergelora.

-THE END-
Share it:

indonesia

kota

lautan

Post A Comment:

0 comments: