Lumpia Gang Lombok Semarang Yang Tak Lekang Oleh Waktu


Inilah Lunpia / Lumpia, wujud nyata dari toleransi antara etnis Tionghoa dan Jawa di Semarang. Kini, Lumpia menjelma menjadi makanan kegemaran banyak orang dan sering menjadi buah tangan. Lumpia Gang Lombok adalah satu dan yang paling legendaris dari banyaknya tempat yang menjual lumpia di kota ini.
Tidak ada yang menyangka legenda Mbok Wasih dan Tjoa Po Nio di paruh awal abad 20 bertahan hingga hari ini. Pasangan beretnis Jawa dan Tionghoa ini awalnya bersaing dalam menjual panganan gurih yang dibalut kulit dari tepung bak sebuah dadar gulung di pasar Olympia Semarang. Namun, persaingan itu berbuah  menjadi cinta di antara mereka berdua. Mereka pun menikah, dan menyusun ulang resep panganan mereka.

Dari yang awalnya Tjoa Po Nio membuat panganan yang mengandung babi, setelah menikah dengan Mbok Wasih ia tinggalkan resep lama supaya bisa diterima kaum Bumiputera. Dari yang awalnya murni resep Jawa, Mbok Wasih juga kini menambahkan unsur Hokkian dalam panganannya. Perpaduan tersebutlah yang hari ini kita kenal sebagai Lumpia. Pangan hasil toleransi antara dua budaya yang berbeda.

Di Semarang, ada banyak sekali penjual lumpia. Namun, jika ingin merasakan sensasi makan lumpia yang autentik dan antik, datanglah ke Lumpia Gang Lombok di daerah Pecinan Semarang. Lumpia ini adalah salah satu yang masih menjaga resep asli yang diturunkan turun temurun sejak zaman Mbok Wasih dan Tjoa Po Nio. Kedai lumpia ini sangat sederhana. Bahkan, tempat untuk duduk dan menunggu juga sangat terbatas. Namun, pembeli tidak pernah sepi di kedai ini. 

Satu porsi lumpia di kedai ini dihargai 15 ribu rupiah. Saya mendapatkan satu potong lumpia yang dipotong kecil-kecil, lalapan selada, daun bawang, dan cabai ijo, serta saus kanji dan acar. Ukuran lumpianya besar. Untuk mereka yang porsi makannya sedikit, saya yakin bisa cukup kenyang. Namun, untuk orang seperti saya, paling tidak saya makan dua porsi lumpia.

Lumpia ada yang jenis lumpia basah dan lumpia kering. Jangan bingung, karena keduanya sama saja. Lumpia basah adalah lumpia yang belum digoreng, sesimpel itu. Untuk oleh-oleh, jangan salah kaprah membeli lumpia basah. Karena lumpia basah tidak bisa bertahan lama. Paling lama seharian saja. Belilah lumpia goreng yang tahan  sampai 2 atau 3 hari. Sesampai di rumah, tinggal digoreng lagi agar bisa hangat dan krispi. 
Proses membuat lumpia diawali dengan memasak isian lumpia. Isiannya terdiri dari rebung yang telah dimasak dengan resep rahasia, telur, udang, dan bumbu-bumbu lainnya. Awalnya akan dimasak udang, kemudian telur yang terdiri dari puluhan butir, hingga tampak seperti telur orak-arik. Kemudian rebung rebung dimasukan, dan diaduk hingga semua tercampur rata. Setelah itu, lembaran kulit lumpia dijejerkan di atas meja, dan isian dituangkan ke atasnya. Proses menggulung pun dimulai. Semua berlangsung cepat. Saya takjub dengan gesitnya mereka yang berkerja menyiapkan lumpia agar siap disantap.  

Setelah menunggu 10 menit, akhirnya saya mendapat tempat dan lumpia saya siap dihidangkan. Hari itu nikmat sekali rasanya mencoba lumpia yang rasanya gurih, manis, kriuk, dan asin, yang berpadu dengan saus kanji dan bawang putih yang manis dan membuat candu. Kerennya lagi, isian rebung lumpia ini tidak tercium baru amis rebung. Sambil menggigit potongan selada, daun bawang, dan cabai ijo, saya lahap lagi potongan lumpia kedua hari itu. Sungguh, siang hari yang dihabiskan dengan baik di sebuah tempat yang legendaris.
  



LUMPIA GANG LOMBOK
Buka: 08.00 -17.00 (Jam 3 atau jam 4an biasanya sudah habis)
Alamat: Jalan Gang Lombok No. 11, Purwodinatan, Semarang Tengah, Purwodinatan, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50137
  

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Back
to top