Bali dan Kamu III: Akhir di Kuta

Share it:


Hari yang cerah itu aku awali dengan menyelaraskan jiwaku dengan air. Berenang, itulah caraku untuk merasa bertemu dengan sang pemilik kehidupan. Entah karena memang aku adalah seorang Pisces, zodiak berlambang ikan yang hidupnya di dalam air, atau karena memang aku menyukai pantai dan hidup di kota pesisir, yang membuatku begitu mencintai air. 

Lovely day. Terkadang berenang bisa menenangkan jiwa
Telah lama aku tidak berenang, sayang rasanya tidak memanfaatkan fasilitas hotel tempat ku menginap. Kolam renang olympic sizenya puas ku arungi pagi itu. Sehabis berenang sarapan telah menanti. Ku isi perut sampai batasnya terasa penuh. Hari ini akan jadi hari yang panjang. Pantai dan jalan-jalan kecil Bali telah menanti untuk dijelajahi.

Aku memilih untuk berjalan kaki menuju Kuta dari hotel. Perjalanan kepantai ditempuh hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Kulangkahkan kaki menuju pantai melewati jalan Legian, dan toko-toko cendramata. Tak lelah tukang pijat di depan setiap panti pijat menawarkan ku jasa pijat refleksi ala Balinya. Ingin rasanya barang sejam dua jam berleha-leha disana, sayang waktu memburuku untuk tetap fokus meneruskan langkah kaki. Di Kuta, kan ku larungkan secarik kertas bertinta yang pernah kau tulis dulu bersamaku. 
Dua orang “Bli” sedang bercakap sambil menunggu dagangan
Siapa yang tidak kenal dengan Pantai Kuta, pantai yang legendaris dan menjadi destinasi wajib mereka yang pertama kali pergi ke Bali. Mulai dari cerita bahagia sampai romatis ada di pantai ini. Bahkan cerita romantis pantai ini sudah sampai kepadaku lewat lagu-lagu yang menceritakan kisah cinta di Kuta, jauh sebelum aku merasakan langsung atmosphir dewi amor di pantai ini secara langsung. Kuta menjadi tempat dimana aku hanya bisa membayangkan memegang tangan mu, disaat mereka yang ada disini saling bergenggam mesra sebagai wujud rasa cinta diantara mereka. Sepanjang jalan menuju Kuta, ekspresi cinta tersebar dimana-mana.
Biru, sejauh mata memandang
Gapura pantai Kuta yang gagah khas Bali menyambut ku. Debur ombak dan biru laut menggoda iman dari kejauhan. Sebagai penyuka pantai, telah banyak pantai ku jelajahi. Mulai dari pantai-pantai pembatas Kalimantan dengan Laut Cina Selatan, pantai sepi Jepara, hingga pantai padang bunga berair keruh di Semarang. Meski banyak orang yang berkata pantai yang ku kunjungi selama ini biasa saja, bahkan tidak menarik, tetapi karena kesukaan ku dengan pantai, maka semua pantai yang ku kunjungi tetap terasa indah. Perasaan berbeda muncul ketika aku melihat Kuta. Seketika aku menyadari apa yang selama ini orang katakan kepadaku. Pantai Kuta memang begitu indah. Seketika aku jatuh cinta dengan pantai ini.
sekali-kali pose boleh lah yaaa :D
Kulangkahkan kaki jengkal demi jengkal menjaga agar celana tak sampai basah ketika melarung isi surat kita. Bukan surat apa-apa, hanya janji semu yang pernah kau tulis kala aku sedang sakit di suatu hari di masa dulu. Melarung, secara tradisional bisa diartikan sebagai penghanyutan masa lalu, dan doa akan masa depan yang lebih cerah. Di kuta ku larung surat kita, ku hanyutkan masa lalu ku, dan berharap ada cerita baru yang akan datang. Tidak, tidak boleh ada lagi ada masa lalu yang menyakitkan.
A lovely beachwalk mall
Perlahan surya meredup. Mentari memendarkan lembayung kemerahan di ufuk barat. Malam semakin menjelang. Keriuhan Kuta belum berakir. Kuhabiskan sore ku di Beachwalk, mall dengan konsep hutan tropis ini membuat ku berdecak kagum. Ku teguk segelas artisan tea di salah satu kedai minuman memandang lalu-lalang para pelancong. Kelebat individu yang ku kenal tertangkap oleh mataku. Ku beranjak mengejar sosok itu. Seakan sadar, ia berhenti dan menoleh kebelakang. Ia mendatangiku, “kemana saja kau, ku pikir kau sudah lupa”, ujarnya padaku. Ria dalam hati membuncah kala melihat dirimu. Kau juga disini. Aku tahu itu. Ku berlari dan memelukmu dengan rindu. Ku dekap kau erat supaya tak lepas lagi. Tepat jika aku telah membuang semua cerita masa lalu, karena hari ini ada cerita baru yang akan ku bangun bersama mu. Selamanya, tak ingin terlepas lagi. 

“checkout dari hotel mu malam ini, ikut aku ke Nusa Dua”
- Tamat -
Share it:

indonesia

kota

Post A Comment:

0 comments: