Perjalanan Ke Museum Bahari (I)

Share it:


image

Jam di handphone telah menunjukkan pukul 5 pagi hari. Segera saya bereskan peraduan saya yang terdiri dari sehelai jaket dan tas ransel sebagai bantal, dan menuju toilet terkunci yang akhirnya telah terbuka di sudut stasiun untuk mematut-matut tampilan diri. Dari Semarang, kereta yang saya naiki menuju Stasiun Pasar Senen sampai dini hari. Saya harus berdiam beberapa jam di stasiun tua ini hingga pagi sedikit lebih cerah, menunggu KRL pertama menuju Jakarta Kota beroprerasi.


image

Stasiun Pasar Senen pagi itu
KRL pagi itu masih sepi. Dari Pasar Senen saya membeli karcis elektronik KRL menuju Jakarta Kota. Terlihat beberapa karyawan dan mahasiswa yang duduk tersebar, saling berjauhan sambil sibuk dengan gawainya masing-masing. Mungkin mereka ini adalah tipikal masyarakat yang lebih memilih berangkat sangat pagi agar tidak terkena desakan sesama komuter ketika jam padat sudah menjelang. Saya turun di Stasiun Kampung Bandan untuk berganti platform. Jakarta sedikit cerah pagi itu dengan udara yang lebih segar dari biasanya, semalam hujan sepertinya. Di Stasiun Kota saya tukarkan karcis elektronik saya untuk mendapat kembali sisa kredit, lumayan untuk membayar karcis masuk museum nanti, guam saya dalam hati.

image

Pagi hari di Fatahilah
Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Hari ini Sabtu, dan tentulah plaza di depan museum Fatahilah ramai dengan para warga yang berolahraga, dan pelancong yang ingin mengejar sunrise di gedung bekas balaikota Batavia itu. Saya duduk-dukuk melihat pemandangan di atas sebongkah batu marmer yang dijadikan kursi taman. Hari ini saya berencana menuju museum-museum yang ada di kawasan Kota Tua Jakarta ini. Tentulah museum Fatahilah, museum Wayang, Museum BI, dan Museum Keramik sudah menjadi incaran saya, tinggal menunggu waktu operasinya tiba. Semua museum beroperasi jam 10 pagi, masih ada empat jam waktu saya menunggu. Sayapun mencari sarapan di sekitar Fatahilah sembari mengulur waktu. Sedikit bosan, pukul 8 saya mulai arahkan langkah kaki menuju utara menyusuri sungai hingga menemukan Jembatan Kota Intan yang ikonik itu. Dari jembatan Kota Intan, saya mecoba memberanikan diri menelusuri kampung kumuh dibawah jembatan layang, iseng menuju pelabuhan Sunda Kelapa. Sesuai logika dan peta, maka tinggal susuri jalan ke utara, dan akan ditemukan batas Jakarta Raya ini dengan Laut Jawa.

image

Museum Wayang di kejauhan
Jalanan kumuh berangsur dipenuhi dengan deretan gudang tua yang sudah ditinggal pemiliknya. Bau aliran sungai yang dangkal dan berlumpur memenuhi indera penciuman sepanjang jalan saya menuju arah laut. Beberapa warga keheranan melihat saya yang sepagi ini sendirian melewati jalanan bau dan sepi entah bertujaun kemana. Tempat saya berjalan ini sepertinya memang bukan rute untuk turis menuju Sunda Kelapa. Tampak di kejauhan mereka-mereka yang asik berjudi gaplek terlindung oleh sepinya kolong jembatan layang. Seorang diri, di jalanan sepi nan menyeramkan. Saya cukup was-was berimajinasi akan dikejar dan dirampas oleh para bajing.

Titik cerah mulai tampak, setelah sekitar dua puluh menit berjalan, saya mendengar deru jalan raya. Benar saja, jalanan itu ramai dengan lalu lintas truk pelabuhan, dan menara-menara gudang tua khas syahbandar sudah menyambut saya di kejahuhan. Setali tiga uang, ternyata jalan yang tadi saya lewati adalah jalur utama masuk ke Batavia di masa lalu. Di ujung jalan, saya temukan gapura Batavia, dan prasasti tentang Jakarta di tepi sungai. Jalan utama masa lalu tadi, telah berganti seolah menjadi jalur menuju sarang penyamun hari ini. Sungguh malang nasibmu hai mempelai Den Haag.

image

Salah satu sudut museum Bahari

image

Panorama Jakarta dari jendela museum Bahari
Saya berubah pikiran dan mengurungkan niat mencari Sunda Kelapa. Pejalan labil ini mendadak tertarik dengan sebuah bangunan yang dari luar tampak seperti gudang pelabuhan tua. Bangunan ini berderet-deret panjangnya, berdiri gagah di depan sebuah pasar tradisional. Di depan jalan masuk terdapat menara yang terbuat dari kayu dan di bawahnya terdapat neon box yang bertuliskan Museum Bahari. Wah, saya terlupa akan museum yang satu ini. Memang terletak cukup jauh dari museum-musuem lainnya di kawasan kota tua Jakarta, tetapi museum ini tentulah tidak kalah menarik untuk dijelajahi.

Saya mendatangi loket pembelian tiket. Seorang petugas dengan ramah berkata bahwa museum baru buka setengah jam lagi, tetapi saya diijinkan menunggu di kursi tamu di lobby museum. Saya buka bungkusan berisi gorengan yang sempat saya beli di depan museum untuk mengganjal perut dan mengisi waktu hingga museum siap menyambut saya. Rute memasuki museum ini akan dimulai dari menara Syahbandar di sebelah gedung kantor, dan kemudian masuk ke  komplek pergudangan di depan pasar yang telah disulap menjadi museum berkelas yang menyimpan cerita kejayaan maritim kita.

Bersambung….
*Beberapa foto perjalanan hilang karena masalah memory card :”(
Share it:

indonesia

kota

lautan

Post A Comment:

0 comments: