Dan Rumah Adalah Dimanapun? Sebuah Obituari.

Kini saya belajar, rumah tidaklah dimanapun
Share it:


Selalu saya berkata, rumah adalah dimanapun. Ketika berjalan, dimana saya merasakan bahagia dan nyaman, maka saya akan menyebut itu rumah. Lalu, rumah-rumah itu kemudian membuat saya merasakan menjadi seorang manusia bebas. Mengenal dunia, terbuka pikirannya karena melihat berbagai adab manusia. Warga dunia, anak semua bangsa.

Malam ini saya sedang di Jakarta. Merasakan tawa dan suka cita karena bertemu dengan teman-teman baik dan tokoh nasional. Menemukan kembali rumah-rumah dimana hati bisa merasa nyaman, dimana capaian-capaian kembali tertoreh di lembar-lembar kehidupan saya. Kemudian hape saya berdering, sebuah telepon dari mama. Dalam latar keriaan panggung hiburan saya mengangkat telepon itu. Dengan lembut mama menyapa, tak lama kemudian menyampaikan kabar duka cita. Nenek saya dari ayah meninggal sore tadi.

Musik hiburan semakin kencang melahap saya yang masih terdiam hilang akal karena kabar yang baru saya terima. Saya kemudian mengutuk jarak dan waktu. Mempertanyakan ucapan rumah adalah dimanapun yang sering saya ucapkan. Kalau rumah adalah dimanapun, mengapa saya tidak ada saat orang-orang terdekat saya sedang merasa begitu kehilangan? Kalau rumah adalah dimanapun, mengapa saya tidak bisa melihat nenek saya untuk terakhir kalinya?

Saya kemudian rindu rumah. Rumah di pinggir kota, di gang yang sepi dan jalannya sempit. Meski begitu, rumah itu terasa hangat. Ketika saya pulang pasti ada mama yang akan menyambut saya. Ada ayam kalkun yang menyeramkan, ada kelinci dan anjing yang menggemaskan. Kemudian sore hari bapak pulang dari mengajar di sekolah. Akan menjabat erat tangan saya yang baru saja pulang ke rumah. Ada adik saya Eva yang akan senyum-senyum simpul membuka oleh-oleh makanan. Ada si bungsu jagoan, Jonat, yang akan langsung membetulkan poni panjang ala anak metalnya sambil bertanya dimana hape baru untuk dia. Ada Liong, anak yang tinggal di rumah kami yang dengan dengan senyum malu-malunya menyalami saya sehabis ia pulang dari sekolah. Kemudian kami makan nanas manis dari kebun kami dan bercerita macam-ragam hingga waktunya tidur. Rumah, sungguh rumah.

Kemudian saya teringat rindu ketika terakhir pulang ke kampung ayah. Dimana saya sekeluarga berkumpul di rumah nenek yang ada di tengah kampung. Tak lama semua keluarga datang, dengan wajah sumringah saling melepas rindu. Ada tente dan om, ada adik dan kakak sepupu, bahkan sekarang ada keponakan. Begitu ramai dan bahagia. Sahut-sahutan ala kampung ayah yang bernada tinggi dan lantang terdengar, begitu menggembirakan suasana. Ada moyang yang kami panggil upui, dan tentu ada nenek yang dulu waktu kecil sering saya panggil nenek gendut karena dulu nenek emang gendut tubuhnya. Namun, nenek sudah jauh kurus ketika saya bertemu waktu itu.

Nenek yang saya kenang dalam ingatan saya sering di dapur, suka memasak salai dan suka memberi makan kucing, berpulang hari ini. Nenek yang sederhana, yang tidak suka jalan-jalan, yang dulu pernah sangat kawatir ketika saya pergi ke Singapura yang adalah trip ke luar negeri pertama saya. Ia yang selalu takut ketika saya cerita saya suka berkeling ke tempat-tempat baru di negeri ini. Ia yang tidak pernah membayangkan hidup di Jawa. Ia yang begitu bertolak belakang dengan saya yang menganggap rumah adalah dimanapun. Ia yang menganggap rumah itu ya adalah rumah di tengah kampung, bercat hijau, dimana ia dan almarhum kakek saya menghabiskan hari-harinya. Rumah yang membuat ia selalu ada untuk ditemui kapanpun kami pulang, kapanpun kami datang jika rindu padanya.

Sepertinya rumah memanglah tidak dimanapun. Rumah bukan pula sekadar sebuah fisik bangunan nan kokoh diterjang angin. Kini saya belajar, rumah (home) adalah sebuah kebesaran hati. Sebuah kelapangan perasaan, yang ikhlas melepas kita pergi berjuang, dan selalu menyambut ketika kita pulang. Mungkin, tidak ada lagi babi panggang nenek yang nikmatnya bukan kepalang itu. Tidak ada lagi sayur kampung dan kreasi ikan yang sering nenek masak. Tapi rumah, yang nenek bangun dalam hati masing-masing kami yang ditinggalkan, akan selalu terbuka untuk menerima cerita-cerita yang kami kirimkan dalam bentuk doa kepada nenek.

Doakanlah kami yang masih mengembara di dunia ini.

Teruntuk Nenek Yulia Siti, Kakek Pasi, Kakek Saeng, dan Nenek Mayut, orang tua dari orang tua saya yang telah berpulang dalam damai.

Share it:

albertna stories

featured

Post A Comment:

0 comments: