Merayakan Bambu di Pasar Papringan Temanggung

Bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan hutan bambu
Share it:


Bagi saya, Pasar Papringan lebih dari sekadar pasar yang banyak menggunakan bambu dan berada di tengah hutan bambu. Bagi saya Pasar Papringan adalah sebuah perayaan akan bambu yang ajaib. Pasar Papringan Ngadiprono adalah tentang bagaimana manusia hidup dari bambu dan menjadi sejahtera karenanya.

Saya harus melewati jalanan yang dikelilingi pematang sawah dalam sebuah mobil yang diisi lebih dari kapasitasnya. Kaki saya tertekuk, perut terus ditahan, dan nafas tersengal, karena memaksakan diri untuk masuk dalam mobil yang mengangkut saya ke Pasar Papringan dari persimpangan Balai Desa Ngadiprono. Sebentar lagi pasar akan tutup kabarnya. Jadi, saya nekat daripada membuang waktu menunggu angkutan selanjutnya.

Nafas yang sempat tersengal selama kurang lebih sepuluh menit terjepit dalam mobil itu kemudian lega ketika melihat plang nama pasar yang terbuat dari tampah beras. Diluar dugaan saya, pasar ini sangat ramai. Kendaraan dari berbagai daerah berkumpul dan diparkir di lahan kosong pada sudut-sudut kampung. Keluarga dengan berbagai warna kulit dan bentuk wajah, tua, muda, semua berkumpul hendak melihat pasar papringan. Mereka yang sudah hendak pulang terlihat banyak menenteng keranjang bambu dengan isi mainan bambu atau tas dan kaos oleh-oleh.

Saya mengantri di pintu masuk untuk menukarkan duit rupiah saya dengan duit bambu yang dinamakan pring. Dua ribu rupiah sama dengan satu pring. Duit yang sudah ditukarkan tidak dapat dikembalikan, namun bisa dipakai lagi berbelanja di kesempatan berikutnya. Saya tukarkan dua puluh ribu rupiah, sambil membayangkan apa yang saya bisa beli dengan 10 pring.



Bentuk uang pring

Saya benar-benar tidak habis pikir. Awalnya saya mengira siapa sih yang mau datang ke desa nan terpencil begini, hanya untuk mencari pemandangan hutan bambu. Memangnya sekeren apa pasar ini sampai-sampai pagi itu ada ribuan orang yang datang. Memang, pagi itu pasar papringan benar-benar seperti pasar sesungguhnya. Dikit-dikit saling bersenggolan, riuh suara penjual dan pembeli yang saling bicara menambah semarak suasana.

Dari yang semula tidak habis pikir, saya pun kemudian mendapatkan pencerahan setelah melihat sendiri isi pasar ini. Jadi, Pasar Papringan adalah pasar terbuka di tengah hutan bambu. Barang yang dijual adalah jajanan pasar, makanan tradisional, juga ada kerajinan dari bambu. Semuanya dijual oleh warga sekitar. Penjualnya menggunakan pakian batik lurik dan tidak menggunakan wadah plastik. Semua di tempat ini alami, ramah lingkungan, dan tidak menyisakan sampah yang tidak bisa didaur ulang.





Anak-anak dan pengunjung bermain permainan tradisnional

Di pasar ini juga ada sebuah play gorund untuk anak-anak. Yang membuat saya tambah senang, yang bermain adalah anak-anak sekitar. Mereka bermain lompat tali, engrang, juga tetabuhan gamelan. Anak-anak ini akan bermain pertunjukan kuda lumping sebelum pasar tutup. Senang rasanya melihat anak-anak masih bermain di luar rumah. Mereka tampak bahagia, mudah berbaur, dan begitu ramah dengan kehadiran orang-orang lain. Beberapa pengunjung pasar bermain bersama mereka, dan mereka tidak canggung untuk bisa merayakan permainan tradisional bersama.

Hari itu yang jelas saya banyak membeli jajanan. Sudah lama saya tidak makan makanan tradisional Jawa, dan Pasar Papringan adalah tempat terbaik untuk menemukannya. Mulai dari makanan kecil bernama Bajingan, Getuk, Tiwul, Tape, sampai Gemblong semua ada. Ada juga makanan berat seperti soto, pecel, kepala manyung, lesah ayam kampung, juga minuman seperti jamu dan susu kedelai murni. Tidak kalah sehat dengan menu-menu diet mahal di kota-kota besar.

Pasar ini juga membuktikan bahwa makanan sehat dan enak itu tidak harus mahal. Ada pula pendidikan tentang diversifikasi makanan. Tidak selamanya kita harus makan nasi, kita masih punya singkong, jagung, sukun, dll. Dengan harga 2000-8000 rupiah, ada makanan sehat yang bisa didapatkan.





Ragam jajan pasar dalam kemasan daun pisang. Plastic free!


Namun, dari semua itu hal yang paling membuat saya takjub berada di pasar ini adalah suasana hutan bambunya. Magis sekali rasanya. Bambu-bambu tumbuh tinggi menjulang, pucuknya saling bertemu dan seolah membentuk langit-langit bagi pasar ini. Suasana rindang begitu terasa, ditambah semilir angin yang seolah menggesekkan senar daun-daun bambu. Damai terasa di pasar ini. Kuburan yang berada di sudut pasar pun tidak menjadi seram, malah menambah istimewa pasar ini. Merayakan hidup, bersahabat dengan yang mati, bersama memuliakan Sang Pencipta yang menyapa lewat gemerisik daun bambu.

Bambu, yang dari sejak muda hingga tuanya berguna bagi manusia, adalah sebuah semangat yang menghidupkan pasar papringan. Perintis pasar ini adalah anak-anak muda peduli lingkungan. Melihat banyaknya potensi hutan bambu di Temanggung, mereka berinisiatif untuk menciptakan cara untuk bisa menambah nilai hutan bambu. Mereka mencoba menampilkan hutan bambu yang pesonanya belum banyak dikenal orang. Mereka mencoba menghadirkan sensasi sarapan dan berbelanja dibawah teduhnya hutan bambu.

Para penjual makanan dan minuman dengan pakaian khasnya
Megahnya hutan bambu Ngadiprono


Sungguh, bambu adalah tanaman yang begitu ajaib. Rebung yang menjadi salah satu sumber penganan kita berasal dari tunas bambu muda. Bambu juga begitu kuat sebagai bahan material konstruksi bangunan. Banyak penelitian mengungkapkan kekuatan bambu yang menyamai kekuatan baja. Selain itu bambu juga estetis. Warnanya natural dan teksturnya halus jika diaplikasian sebagai material produk.

Di pasar papringan, ada banyak kreasi bambu yang dijual. Ada radio dengan material bambu, sepeda, mainan, nampan, dll. Sayang saya tidak sempat melihat semua produk itu karena datang kesana kesiangan. Mimpi saya semoga bisa membeli radio bambu dari pasar papringan suatu hari nanti.

Siang hari pun tiba, pertanda saya harus segera beranjak dari pasar ini. Saya sempatkan menonton tarian Jaran Kepang dari anak-anak yang tadi menemani saya bermain. Tari tradisional adalah penutup keramaian pasar hari itu. Doa saya, semoga manfaat bambu dan cerita kehidupan manusia nan bersahaja bisa terus dirayakan di Pasar Papringan Ngadiprono. 

Pasar ini buka setiap hari Minggu Wage dan Pon dalam penanggalan Jawa. 


Bahagia itu sungguh sederhana


Share it:

featured

indonesia

Post A Comment:

2 comments:

  1. Seneng banget ya bisa main ke sana, Ghana. Tau ga, pas kita lihat anak-anak main jaran kepang itu mata ku agak ngembeng sedikit. Terharu gitu, masa kecil anak-anak di Ngadiprono masih sangat menyenangkan dengan kuda dan pecut dari pelepah pisang. Bahkan anak-anak di kampung mbah ku udah ga ada yang mainan begituan.

    jadi terharu lagi pas lihat foto terakhir di postingan mu. So sweet.

    ReplyDelete
  2. Pernah ke Temanggung beberapa kali tapi tidak tahu ada pasar papringan.. Minggu Wage/Pon ya, mudah-mudahan saya tidak lupa :)

    ReplyDelete