Irama Senja di Pantai Kilang Mandiri Balikpapan




Langit berwarna ungu violet sore itu ketika saya tiba di Pantai Kilang Mandiri. Sekaleng susu soya saya dapatkan sehabis membayar tiket masuk lima ribu rupiah di depan gerbang pantai. Sesudahnya, semilir angin dan pasir cokelat muda menyambut saya. Nyiur melambai, ombak laut menari. Sore itu adalah salah satu sore terbaik saya. 

Pantai Kilang membawa saya pada memori di sebuah foto yang saya lihat sewaktu membuka album di lemari rumah sewaktu kecil. Foto hitam putih pantai dengan latar kapal Pelni yang berlayar di senja hari. Sejak itu, saya menjadi penggemar berat pemandangan kapal besar yang hendak merapat ke pelabuhan. Bahkan, sewaktu kecil saya sering meminta ayah untuk pergi ke pinggir Sungai Kapuas melihat kapal-kapal dari Jawa tiba di Pelabuhan Dwikora Pontianak. Sore itu, saya kembali merasakan sensasi yang sama ketika memandang deretan kapal tanker mengantri masuk pelabuhan Balikpapan. 

Sendiri menjaga barang-barang teman saya yang sudah berpencar memburu foto diri berlatar senja, saya duduk menikmati sore yang semakin temaram. Saya putar playlist lagu pantai saya; Float, Irama Pantai Selatan, Banda Neira dan sebangsanya mengalun perlahan di telinga. Sejujurnya, musik indie, senja, dan pantai memang pas sekali bukan?  Jujur saya terkadang heran ketika suatu musik dan diksi menjadi kontroversi hanya karena mayoritas penyukanya dianggap norak, atau tak cukup dalam memaknai lirik dan diksi. “Mendadak Indie” dan beragam sarkasme pada pendengar lagu indie dan penyuka senja rasanya tidak cukup adil diberikan, karena mendengarkan “irama senja” di pantai memang sejatinya sungguh nikmat dan menyejukan hati, setidaknya bagi saya. Maka dari itu, pantas saja ia disukai oleh kebanyakan orang. 





Menoleh ke belakang, tampak rombongan ABK yang sedang turun dari kapal dan menikmati susana Balikpapan bercengkrama dengan riuhnya. Sesekali mereka bersiul pada perempuan-perempuan yang berpose di kejauhan. Terlalu lama memandangi ombak dan sesama laki-laki membuat mereka jadi sedikit liar sepertinya. Tetapi saya berpikir, asik juga sepertinya menjadi ABK. Mereka berkeliling dunia, membuang sauh di antah berantah, berinteraksi dengan penduduk setempat pada level yang paling lokal, pastilah membuat mereka punya banyak sekali cerita hidup.

Bagaimana tidak, bisa saja mereka punya pengalaman dikerjai pereman pelabuhan, atau menghadapi ombak paling mematikan di dunia. Atau cerita pengalaman berselingkuh dengan penjaja sex terkenal di kota tempat buang sauh, hingga cerita tentang teman-teman yang kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan kerja di kapal. Sesungguhnya mereka adalah salah satu peserta perayaan hidup yang paling bergembira merayakan kemanusiaannya.

Seperginya para ABK, pantai hanya tinggal saya dan beberapa rombongan keluarga yang hanya sekadar duduk-duduk berbagi cerita. Saya kemudian memperhatikan deretan vila dengan gaya jengki yang dapat disewa oleh para pengunjung. Menemukan gaya arsitektur favorit di pantai yang suasananya saya nikmati membuat hati semakin syahdu. Dengan menarik nafas dalam-dalam, saya berdoa supaya ada umur panjang untuk bisa kembali lagi dan menginap barang semalam di salah satu vila berfasad indah itu.

Pohon kelapa dengan lampu neon yang menyala di batangnya membuat saya tersadar bahwa hari telah malam. Senja buyar, dan berkata waktunya pulang. Saya habiskan terlebaih dahulu lagu Sementara dari Float untuk menutup perjumpaan saya pada pantai yang tak begitu istimewa namun berkesan bagi saya. Entah, tempat-tempat sederhana seperti ini selalu saja lebih berkesan dan membuat saya selalu berjanji untuk datang kembali. Mungkin karena ragam manusianya, atau mungkin karena semesta memang lebih suka dengan kesederhanaan. Sehingga, jika kita mencari bahagia ketika berjalan, maka tempat sederhana boleh diperhitungkan. Bahagia memang sederhana bukan katanya? 






CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Back
to top